Archive for the ‘Travel’ Category

Sayonara, Hanami

Friday, March 14th, 2008

April
adalah bulan istimewa bagi orang Jepang. Puncak musim semi, di mana luruhnya
bunga ume terganti oleh keindahan bunga sakura, mekarnya tsubaki, dan tulip2
import dari Horanda. Awal semester baru, sekolah baru, pekerjaan baru, apato
baru, biasanya dimulai pada bulan shigatsu ini.

Berakhirnya
musim dingin yg menggigit, yg membuat malas mandi, apalagi tanpa adanya spirit
natal, kado tahun baru dan doki-doki valentinan utk melewatinya *piss men*, merupakan
saat yg sungguh saya nanti2kan. Udah gak sabar rasanya melepas jaket tebal dan
daleman heat tech yg saya kenakan. Udah gak kuku rasanya utk menggilir kaos2
simple dan sendal2 saya yang hampir setengah tahun ini hanya menuh-menuhin lemari.
Belum lagi koleksi2 terbaru, hwaaahhh… terbayang sudah keriaan sepanjang
musim semi hingga musim panas nanti. Tapi…

Tahun
ini, saya gak akan sempat melihat permukaan sungai Hijikawa yang tertutup rata
oleh kelopak bunga sakura. Saya gak akan di sini saat angin membuat hujan
sakura lokal di jalan yg biasa saya lewati. Saat pendamba sakura berdatangan
dari segala penjuru bumi, maka saya justru akan pergi.

Ya,
saya akan pulang. Saya harus segera mengobservasi oKan yg terlanjur bicara
bahasa planet. Analisa sementara oKan hanya bingung bahasa. Semoga gak
aneh-aneh semacam autisme atau gifted child segala rupa. Dia bukan anak yg anti
sosial, dan siapapun gak sudi melakukan kontak mata kalo sedang merasa bosan,
betul? Tapi sebaiknya memang perlu diobservasi, dan saya pikir lingkungan
berbahasa Indonesia sangat dibutuhkan oleh oKan saat ini. Lebih cepat lebih
baik. Jadi, kami akan pulang. Saya dan oKan.

Motivasi
lain tentu saja ada. Selain kenyataan bahwa setahun kemarin Jepang ternyata
bukan untuk saya, I desperately need more time and more space for my self to do
my own things. Apapun hal2 tak penting asalkan bisa membuat saya bahagia. A
happy mom would make a happy child, aight?   

So,
semua demi oKan. Dan paNda? Yeah, you japanese gals atawa yg campuran could
dying trying, cause paNda akan saya titipkan sama Boss besar. And me? Yeah, um
going to be his talking frog for years, and he’s going to love me more because
of it, bwakakaka… hhh… naseeb kawin ma geek… (hehe, pis paNda, do me
tonight ‘k? *wink*).

Jya,
sayonara hanami (cherry blossom viewing)… haru (spring)… Icha, mbak Indah,
teman2 suamiku, sensei2 nihongo-ku di MIF, para okasan di taman2 bermain, wanwan-chan,
uta-chan, dan koto-chan (tiga yg terakhir titipan oKan ;p). Mina-san, hontouni
iro-iro osewani narimashita.

Arigatou…

 

“Apakah kau pernah merasakan,
lava yang bergejolak di ulu hatimu, sementara angin musim dingin justru membuat
kornea matamu beku? Lalu saat putik sakura mulai merekah, jiwamu justru
mengkristal bagaikan salju. Dingin, keras, keropos. Bahkan saat kau duduk di
bawah pohon sakura yang tengah rontok, telapak tanganmu malah menangkap sehelai
daun kering coklat yang rapuh, rangup. Sama seperti perasaan Troy saat
memandang sungai yang tertutup helai kelopak sakura mati, perlahan hanyut
menuju laut. Bagai sisik naga, menggelosor tenang tanpa emosi. Membawa pergi
halusinasinya yang berwujud sebuah sampan, tempat sang kekasih terbujur diam,
lengkap dengan bayangan phoenix yang melintas di atas jasadnya.”

 

From my
unpublished novel, “Bell of Dragon’s Love”. Hh, kapan yak kamu
lahir sayang?

 

 

Shonandai, Maret
2008

Review: Tokyo Disneyland

Tuesday, September 11th, 2007

Tiket:

Tiket dewasa : ¥5800

Anak-anak sampai dengan 4
tahun : gratis!


Tips1 : sebaiknya beli tiket
di Disney Store yg ada di
kota
terdekat. Agar begitu sampai di lokasi tinggal mengantri untuk masuk. 

Dscf0605_copy_1
Dscf0611_copy

Tiket atau passport ini masih
terpakai untuk mengambil tiket FassPass (FP). Namun untuk masuk ke wahana2 bermain
tidak perlu diperlihatkan lagi (dan tidak perlu keluar uang lg, selain utk beli
mainan dan jajanan).

Kemarin ane dtg hari Senin,
tp teteup aja pinuh nuh nuh. Gak kebayang deh gmn kalo pas weekend.

Tips2: begitu berhasil
melalui antrian di gerbang masuk, segeralah berlari ke mesin FassPass di dekat
wahana2 yg anda incar.

Pengalaman ane, saat
mengambil ticket FP atraksi Pooh’s Hunny Hunt pd pkl 11, baru dpt giliran utk pkl
18.30. Gpp deh. Kalau mengantri biasa bisa sampai sejam! Kasian si o’Kan kalau harus menunggu di
antrian selama itu.

Atraksi:

Banyak macam wahana sesuai
tema design yang terkelompok di seputar
CinderellaCastle (Fantasyland, Toontown, Adventureland, Tomorrowland, dll). Di antaranya yg
sempet ane jajagi sbb:
 

 

Big Thunder Mountain
(Roaller Coaster at Westernland)


Roaller coaster dengan
desain wahana unik ala kereta tambang pegunungan western. Bentuk bangunan
seperti gunung batu merah yg tinggi nan curam. Rel dan gerbong keretanya tampak
rapuh dan tua. Sepertinya menjanjikan eh? (sowwy, lupa difoto).

Jangan tertipu dgn antrian
panjang di luar. Antrian di dalamnya jauh lebih panjang lg! So, segera ambil
tiket FassPass sekitar 5 m di sebelah kiri pintu masuk., dan kembalilah pada
waktu yg tertera di tiker FP anda. Hanya butuh 5 menit untuk mengantri
(walaupun antrian di jalur FP juga panjang).

Kalau tidak pakai tiket FP,
selamat mengantri selama 70 menit! Gak worth it utk atraksi yg hanya 5 menit.
Dalam skala deg-degan 1-5, ane beri nilai 2 saja. Lebih serem roaller
coaster-nya Dufan. Bunyi kriet-krietnya asli, bukan buatan seperti yg satu ini
;p 

 

Pooh’s Hunny Hunt (Fantasyland)

 
Dari luar wahana tampak
sederhana, buku dongeng raksasa Winnie The Pooh seri cerita ‘Berburu Madu’.

Dscf0627_copy_1Dscf0655_copy_2
Dscf0658_copy_2 Saat di dalam kita seolah
benar-benar dibawa masuk ke dalam buku dan menikmati cerita dengan visualisasi
multi dimensi. Diiringi sound effect, music, tutur story teller serta celetukan
para karakter seperti di filmnya.

O’cawan yang membawa kita
menggelosor aktif bahkan ikut melompat-lmpat seiring lompatan T-ger yang dipantulkan
projector di dinding. Permainan fx cahaya di tiap ruangan pun berubah-ubah
sesuai cerita. Pertama kita seolah berada di langit bersama sejuta taburan
bintang, lalu kita masuk dalam imajinasi Winnie yang sedang mabuk madu, dst.
Sugoi tanoshi!

 

Tokyo Disneyland
Electrical Parade

 
Pkl 19.30. Gak nyangka
ternyata ada moment ini. Untung gak langsung pulang. Poksnya kalo kelewat
rugiii… pisan!

Nyesel gak ikut ngetek
posisi duduk dari awal. Akhirnya pas parade dimulai sisi jalan udah penuh dgn
pengunjung. Kite dpt di belakang, kehalang dikit ama tiang pembatas.

Ugh, paradenya cantiik
banget. Kereta-kereta tematik yang membawa tokoh-tokoh Disney muncul satu
persatu diiringi puluhan pengiringnya. Istimewanya, semua kostum berselimut
lampu-lampu stardust yang bersinar cantik seperti kristal Swarovski.

Dscf0662_copy
Dscf0661_copy
Dscf0660_copy
Permainan effect-nya juga
splendid. Contohnya saat Ibu Peri mengucapkan mantra, serta merta busana yang
dikenakan Cinderella berubah warna dgn desain lampu kostum yg lebih mewah. Atau
saat kereta karang Nemo lewat sambil menyemburkan gelembung sabun ke udara. Rasanya
dunia seperti berada di dalam air. Anak-anak balita langsung berdiri dan
melompat-lompat menangkap gelembung sabun.

Sulit utk tidak terhanyut
dalam buaian imajinasi tokoh-tokoh yg sudah lekat semenjak kita kecil ini.
Para  ‘badut’ dan actor karakter pun bertingkah dan
tersenyum dengan sangat professional. Menyapa setiap pengunjung seolah saat itu
adalah hari pertama mereka bekerja. Jadi terharu, hiks…
 

Souvenir:

Selain toko-toko setipe
Disney Store, di
Cinderella Castle (dan beberapa
lokasi) ada toko Kristal kaca dan Swarovski dgn koleksi desain yg cantik. Ngences
abis deh ngeliatnya. Makanya bawa duit yg banyak ye. Dgn modal sekitar ¥2000
udah bisa bawa pulang kok patung kristal kecil berbentuk karakter Disney atau
fantasi semacam kuda caroussel, unicorn, etc. 
 

Kalo ane sih kmrn cuma mampu
beli satu gantungan Kristal berbentuk kepala Mickey buat liontin tambahan di
kalung ane.

Ohya, pulangnya beli coklat
jg. Selain krn lapar, bentuk kalengnya lucu sih, seperti kaleng roll film.

 

Ah, seneng banget dah diajak
paNda maen ke
sana
(mwa-mwa). Musimnya pas (walau sempet ujan). Belum mulai bulan puasa jg. Jd yah
cucok deh.
 

Okeh, kalo mo ajak2 ane maen
ke
sana lg
boleh… tp bayarin yee ;))~

 

Review: KAZUO OGA EXHIBITION

Sunday, July 29th, 2007

Berawal
dari kedatangan ane ke stand Studio Ghibli di Tokyo International Fair Anime
bulan maret lalu, ane mendptkan
selebaran informasi yg mengantarkan diriku ke kunjungan weekend kali ini.

Setelah
search info di google-ku sayang, tergelarlah sedikit profile mengenai sang
Kazuo Oga ini. Singkatnya beliau adalah ‘The Man Who Drew Totoro’s Forrest’.
Dgn kata lain, seorang background artist andalan Miyazaki Sensei. Hmm… he must be something…

So, berangkatlah ane beserta keluarga, menempuh 1,5 jam
perjalanan menuju Museum of Contemporary Art, Tokyo.

Sampai di sana… Uh-oh… Apakah antrian panjang dan tebal
(alias 4-5 org dalam 1 shaft) itu semuanya bertujuan sama dgn ane?  

Hai, so desu. 

Tarik
nafas… dan anepun bergabung dgn semangat. Maklum, baru diisi nasi unagi dan
sedikit mie soba. Setelah mengantri dan kipas2 (panas bo’) sekitar 30 menit, di
tangan ane tergenggam secarik tiket seharga ¥1100. Yatta…!

Tapi… apa
itu di depan pintu masuk?

Jawab: Sebentuk
antrian yg sama tebal dan sama panjangnya dgn antrian yg barusan ane
tinggalkan.

Apakah mereka
jg bertujuan sama dgn ane?

Hai, so desu.

Jya… he MUST BE really something or
I will… ciaatt…caatatatatata!!

Tarik
nafaaas… dan sekitar 20 menit kemudian… aahh… AC di dalam ruang pameran memang terasa
lebih sejuk. Fiuh… 

Ruang
pertama ini berisi kumpulan karya doi di tahun 70an. Canggih. Marvel abis. Mungkin krn waktu itu statusnya msh anak muda
ya. Hm, keknya bakal lebih edun nich!

Lalu saat
hendak melangkahkan kaki ke ruang yg lebih gelap…

OMIGOD… ANTRIAN
APA LAGI INIIIHHH…>>(><)<<

Bused
da’ah… ane emang gak ngerti sama info layout pameran yg diberikan (kanji
gilak!) tapi ane bertekad gak akan melewatkan satu ruang pun setelah ane
memasuki tempat inih! Jya, ganbarimasu!!

Sekitar 20
menit berlalu dalam ruang berbentuk labirin, gelap, dan tanpa musik. Untung di
sebelah ane ada sepasang muda mudi yg pintar memanfaatkan keadaan. Ane jd ada
sedikit hiburan. Hmm… jd inget masa lalu… hhh…
yare yare

Nah itu dia
barangnya yg membuat ane mengantri panjang ntuk ketiga kalinya hari ini: sebuah
lubang di dinding yg dirambati tumbuhan lumut imitasi.

Apakah itu…
benar: Rumahnya Mbah Totoro.

Sebuah
diorama yg dibentuk menyerupai rumah Totoro di dasar batang pohon yg besar, dgn
fx berkas cahaya menerabas dari atas. Walaupun tak tampak kupu2 yg beterbangan
spt dlm filmnya, tp si empunya rumah tampak pulas tertidur dan… bernafas donk.
Dadanya naik turun perlahan dan terdengar dengkuran halusnya. Hmm… pengen deh jd
May n numpang bobok di situ 8p~


Berikutnya
tentu saja, portofolio Kazuo Oga sepanjang sejarah bergabung dgn Studio Ghibli.
Setiap masterpiece terpajang rapi di sepanjang dinding ruang-ruang yang
dikelompokkan sesuai judul2 film mahakarya Ghibli. Mulai dari Totoro sampai
film yg akan premiere summer ini (apa ya td judulnya lupa). Mulai dari background
color, preliminary background, design location, sampai layout karya sang Art
Director. Setiap layer cel OL, UL, BG ditumpuk dan diframe rapi. Info camera
alias Field Guide-nya sih gak ada, udah direuse kali ye.

Well, rasanya
hampir gak percaya… inget gak, BG lembah tebing di ceruk pantainya Porcoroso??
Mata ane dan goresan asli masterpieces yg replikanya terpajang di kantor ane
dulu, saat ini hanya dibatasi oleh sebingkai kaca pigura!

Gak
habis2nya bibir ini mendesis menahan spontanitas yg meluncur dari dasar hati yg
paling dalam…

ANJ***NG
MAMA…

ORANG GILA…

EDAN!

GAK
MUNGKIN, INI PASTI TRACING…

OOOUUGGHHH…

(Hm.. pdhl
tereak aja ya. gak ada yg kenal ini. Tp waktu itu ane lg pk rok panjang. Trus
rambut dikepang panjang ke belakang. Kalo berkelakuan aneh2 bisa2 malah
dideportasi dah. Nih ada emak2 gaijin lepas kandang ;p)

 

Karya-karya bapak ini sgt detil luar
biasa. Setiap helai daun, gradasi rumput, fx shadowing n lightingnya… ck ck ck.
Pdhl itu gbr di atas cel animasi lho (semacam plastic gitu). Ayo, gmn coba
ngapusnya kalo salah?


Mana ukurannya cuma kertas jepang
pula (lebih kecil sedikit dr A4). Ada jg sih yg
pake kertas america
(sekitar A3) atau model kertas yg disambung2 utk scene w/ BG PANing. Semisal
scene saat Kiki meluncur di jalan dibonceng sepeda temennya yg depannya
dipasangi baling2, atau saat Mononoke berlari menuruni hutan lebat (layer hutan
lebatnya ada 5 bayangin!), and so on.

Setelah
sejam-an melalap pemandangan alam Jepun lantai pertama pun berakhir. Yup, msh
ada satu lantai lg. tp di antara jeda ruang ane memutuskan mengistirahatkan dengkul
(DAN HATI) sembari memanfaatkan facepaper modal penampilan ane natsu ini. Cepeul bo’.

 

Ruang
berikutnya ada di lantai 3 (yg barusan lantai 1). Kali ini berisi karya2 Kazuo
Oga sebagai illustrator untuk buku dan yg lainnya. Di sini digelar jg proses
kerja sang dewa saat melahirkan karyanya melalui presentasi AV dan foto. Bahkan
meja kerja sang dewapun terjogrok di salah satu sudut, lengkap dgn hamparan
kuas, cat poster dan alat gbr lainnya, wadah aer, tempelan schedule kerja,
referensi foto (tuh kann… bisa jd doi tracing! ;DD >> *msh sulit menerima kenyataan*), sampai alat airbrush yg
nyangkut di sisi meja. Satu yg lucu adalah bbrp origami berbentuk kura2 yg
dibuat entah dr kertas bekas apa dan berisikan apa.

Ingin rasanya meninju pingsan
panitia yg lg jagain tempat itu lalu mencomot satu origami kura2 buat
kenang2an. Namun lagi2 ya itu… ane takut dideportasi… Xp~

 

Okeh,
sepertinya ruang keren2an Master Oga udah berakhir sampe di sini. Di sini, satu
ruang yg menampilkan bankground rumah May segede dinding. Dan ane…

LUPA BAWA
KAMERA…

Padahal di
ruang ini…

BOLEH
MOTRET…

Dan di
sudut sana ada…

BONEKA
TOTORO SETINGGI 2 METER…

 

Anepun
melangkah ringan (*udah.. jgn bo’ong*)
ke ruang sebelah yg tampak bagaikan kelas playgroup. Ternyata org2 lg pd asik membuat
origami Totoro. Ane gak mo ketinggalan donk, dgn pedenya lipat sana lipat sini. Adu cepat dgn ibu2 yg khusuk
membuatkan utk anaknya. Dan ane, kalah cepat donk. Hiks, pulang aja dah ane… 

Eh tp
sebelum keluar, mampir dulu ke ruang yg menjual buku2 n souvenir Ghibli. Mayan,
dpt satu buku proses karya Sang Dewa Background, miniatur sepeda baling2 Kiki
dan mobil pick up bokapnya May yg penuh barang2 pindahan (plus May dan kakaknya
yg mengintip dr balik tumpukan barang =)))) 

Pamerannya
msh sampe bulan September lho. So, kalo kebetulan anda lewat deket2 selatan Tokyo, gak rugi kok mampir.
Dgn catatan:

  1. jangan dtg hari minggu kalo gak mo ngantri lama
  2. bawa air minum di tas
  3. BAWA KAMERAAAAAAAA………….!!!

 

07290001

via camera hp hubby (yg ga ikut masuk, hiks)

depan museum MO+, Tokyo